Beberapa hari yang lalu saya membaca buku "The Beloved Aisyah". Buku tersebut menceritakan sosok Aisyah Radhiallahu 'Anhu semasa hidupnya dalam bentuk novel dan dirangkai dengan kata-kata yang mudah dibaca dan membuat sesekali berhasil mendorong saya mengeluarkan decakkan decakkan kagum akan sosok Aisyah RA yang masyaa Allah cerdas dan tabah luar biasa.
AlhamduliLlah. Betapa bersyukurnya saya karena orang tua saya memberikan nama itu kepada saya.
"Nama itu do'a, Nak. Kalau orang tua memberi nama untuk anaknya, itu tandanya orang tua mendo'akan anaknya lebih dari berharap agar anaknya menjadi seperti nama itu. Bapak kasih nama Aisyah, berdo'a semoga anak bapak punya karakter cerdas dan tabah seperti Aisyah."
Begitu kurang lebih almarhum ayah saya menjawab pertanyaan saya, maklum anak kecil selalu penasaran tentang arti dari nama lengkap yang dimiliki.
Bapak, terima kasih untuk nama tersebut.
Saya merasa amat sangat termotivasi dengan nama itu.
Aisyah RA yang diriwayatkan memiliki karakter yang penuh rasa ingin tahu, periang, tabah, dan cerdas membuat saya meresapi nama tersebut. Menanamkannya dalam karakter saya. Tidak harus persis dengan Aisyah RA. Tidak akan sama. Beliau luar biasa hebatnya:")
Menikah di usia yang amat belia dengan seorang penyampai risalah-Nya, beliau tidak menyerah dalam mempelajari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga kepada Ibu dan Asma', kakanya dari beda ibu.
Bersiap memasang hati setebal baja karena kecemburuan saat Rasulullah menikahi Hafshah walaupun sebenarnya beliau amat cemburu.
Tegar saat mendapat fitnah hanya karena ditolong pemuda pasukan karena tertinggal rombongan di padang pasir akibat mengambil kalung pinjaman kakaknya yang jatuh dan kemudian hilang. Lalu beliau diperlakukan yang tidak seperti biasanya oleh Rasulullah ketikabeliau sakit. Rasulullah telah mendengar kabar tersebut dan sempat berniat unyuk menceraikan Aisyah RA.
Jiwa kepemimpinannya saat perang Jamal meskipun beliau sudah cukup tua.
Kecerdasannya yang kemudian Rasulullah beri julukan "madrasah bagi ummatku". Rasulullah menjelaskan banyak masalah fiqh, aqidah dan sebagainya.
Hati yang lembut dan tabah ketika ajal menjemput Rasulullah dalam pangkuannya.
Allahku.... Sampaikan salam ku untuk Aisyah RA :)
Selasa, 14 Juli 2015
Namaku Aisyah
Selasa, 23 Juni 2015
Si Gundah
Kuperhatikan guratan wajahnya. 'Kamu kenapa?', ia membisu. Duh, aku yakin, pasti dia merindukan orang itu lagi. 'Sudahlah, orang kaya dia gak pantes kamu kangenin', kali ini alisnya naik. 'Ah, kamu sih gak ngerasain', begitu jawabnya sambil menyandarkan kepalanya di atas bahuku. Hah, tidak lelah kah ia memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkannya? Tidak lelah kah ia menaruh rasa rindunya pada orang yang tidak rindu padanya? Tidak lelah kah ia bersedih sementara yang difikirkan malah berbahagia? Tanpanya.
Hah, basi.
Hah, basi.
Senin, 08 Juni 2015
Gone, Gone, Gone
by Phillip Phillips
When life leaves you high and dry
I'll be at your door tonight if you need help, if you need help
I'll shut down the city lights,
I'll lie, cheat, I'll beg and bribe to make you well, to make you well
When enemies are at your door I'll carry you away from war
If you need help, if you need help
Your hope dangling by a string
I'll share in your suffering to make you well, to make you well
I'll be at your door tonight if you need help, if you need help
I'll shut down the city lights,
I'll lie, cheat, I'll beg and bribe to make you well, to make you well
When enemies are at your door I'll carry you away from war
If you need help, if you need help
Your hope dangling by a string
I'll share in your suffering to make you well, to make you well
Give me reasons to believe that you would do the same for me
And I would do it for you, for you
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You will never sleep alone
I'll love you long after you go
And long after you're gone gone gone
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You will never sleep alone
I'll love you long after you go
And long after you're gone gone gone
When you fall like a statue
I'm gon' be there to catch you
Put you on your feet, you on your feet
And if your well is empty
Not a thing will prevent me
Tell me what you need, what do you need
I'm gon' be there to catch you
Put you on your feet, you on your feet
And if your well is empty
Not a thing will prevent me
Tell me what you need, what do you need
I surrender honestly
You've always done the same for me
You've always done the same for me
So I would do it for you, for you
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You would never sleep alone
I'll love you long after you're gone
And long after you're gone gone gone
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You would never sleep alone
I'll love you long after you're gone
And long after you're gone gone gone
You're my back bone, you're my cornerstone
You're my crutch when my legs stop moving
You're my headstart, you're my rugged heart
You're the pulse that I've always needed
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum my heart never stops beating
You're my crutch when my legs stop moving
You're my headstart, you're my rugged heart
You're the pulse that I've always needed
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum my heart never stops beating
For you, for you
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You would never sleep alone
I'll love you long after you're gone
For you, for you
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You would never sleep alone
I'll love you long, long after you're gone
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You would never sleep alone
I'll love you long after you're gone
For you, for you
Baby I'm not moving on
I'll love you long after you're gone
For you, for you
You would never sleep alone
I'll love you long, long after you're gone
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum my heart never stops beating for you
And long after you're gone gone gone
I love you long after you're gone gone gone
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum baby don't stop beating
Like a drum my heart never stops beating for you
And long after you're gone gone gone
I love you long after you're gone gone gone
Senin, 01 Juni 2015
Kali ini Bukan Pelajaran Sekolah
Alhamdulillah, ada kesempatan menulis lagi di blog ini.
Rasanya senang sudah melewati beberapa kertas LJK dan senang karena tangan
tidak lagi lelah hanya karena membulatkan pilihan jawaban, kebal sudah. Malam
ini, tepatnya 1 Juni, saya akan menulis, bercerita sedikit tentang apa yang
merasuki pikiran saya, sebulan belakangan. Bertanya-tanya sendiri, hanya dalam
hati. Berdesir hati saat bergumam. Kelu rasanya kalau dituangkan secara lisan.
Terlalu rumit.
Saya terus bertanya “mengapa?”, ke beberapa teman saya, yang
saya anggap bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Mau tau pertanyaannya?
Ah, rahasia, nanti juga bisa menebak apa pertanyaannya. Toh, sekarang saya akan
menjawab pertanyaan saya sendiri. Seperti kata guru saya, “sebenarnya kalau
kamu bertanya tentang opini, kamu sudah punya jawaban sendiri, kan?”. Ah ya,
gotcha.
Saya kira semua orang tua sama. Hm, spesifiknya, semua orang
tua menyayangi anaknya. Ah, rasanya kata sayang di sini terlalu universal. Saya
kira, semua orang tua memperhatikan, mendidik, dan mencintai anaknya, just
like my parents do. Saya mulai paham, ketika melihat lagi lebih jauh,
memberi perhatian lebih luas secara tidak langsung. Saya melihat teman-teman
saya, yang sejatinya memang dari berbagai daerah, berbagai keluarga, dan
berbagai pula karakternya.
Menurut pelajaran yang saya pelajari, tepatnya sosiologi,
ada 2 pola sosialisasi keluarga, yakni partisipatoris dan represif. Partisipatoris
menekankan hubungan antara orang tua dan anak yang harmonis, saling bertukar
pandangan, dan orang tua melakukan pengawasan dengan cara yang membuat anak
merasa nyaman, tidak telalu strike dan membuat anak ingin memberontak atau
malah melakukan kekerasan seperti pola represif. Hah, saya beruntung punya sedikit
ilmu tentang sosialisasi, alhamdulillah. Keluarga yang notabenenya memang
menjadi media sosialisasi primer, seharusnya menjalankan sosialisasi itu dengan
baik. Karena, bagaimanapun juga sosialisasi primerlah yang menjadikan seorang
anak merasa diakui di dalam lingkungannya. Keluarga seharusnya sebagai media
pertama yang menerapkan nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat kepada
anak. Apalagi dalam play stage atau tahap bermain dalam masa
pembentukkan kepribadian. Dalam tahap tersebut, seorang anak perlu diterapkan
nilai dan norma yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam
masyarakat agar tercipta masyarakat yang harmonis tanpa penyimpangan sosial
yang diakibatkan oleh kurang atau bahkan salah sosialisasi.
Setiap orang tua memang memiliki cara masing-masing dalam
mendidik anaknya. Apapun akan dilakukan untuk membuat anaknya senang. Ya,
asalkan anaknya senang. Meskipun keadaan ekonomi memaksa atau kesehatan yang
datang dan pergi. Ah, sayangnya orang tua seperti itu. Memanjakan anaknya tanpa
memberi tahu kepada anaknya apa yang sebenarnya dialami. Tetap membelikan
barang-barang branded yang jelas sekali mahalnya dengan kartu kredit atau berusaha
meminjam uang teman atau malah mengais-ngais belas kasihan dari keluarga
terdekat. Duh, sungguh disayang anak itu. Tapi, entah, menurut saya itulah hal
yang amat memprihatinkan.
Menurut saya, seorang anak harusnya dibiasakan dengan
keadaan sederhana. Jika memang dari keluarga kaya, ingatkan juga kepada si
anak, bahwa roda akan terus berputar, tidak selamanya yang kaya akan menjadi
kaya. Lagipula, terkadang kekayaan bisa menjadi cobaan. Cobaan ketika memiliki
banyak harta sedangkan tetangga di sebelah rumah sedang menahan lapar dengan
puasa. Cobaan ketika memiliki banyak harta dan berjalan dengan angkuhnya
mengangkat dagu atau berdiri tegak dengan tangan di pinggang. Cobaan.
Sudah jam 10._. Lanjut besok yaJ
Rabu, 13 Mei 2015
PAHAM BARU DI ABAD 19
1.
NASIONALISME
![]() |
| Otto Bauer |
![]() |
| Hans Kohn |
Tokoh nasionalisme atau pencetusnya adalah Joseph
Ernest Renan, Otto Bouer, Hans Kohn, dan Louis Sneyder.
Ernest Renant menyatakan bahwa nasionalisme
ada ketika muncul keinginan untuk bersatu.
Menurut Otto Bouer, nasionalisme muncul
karena adanya persamaan sikap dan tingkah laku dalam memperjuangkan nasib yang
sama.
Hans Kohn berpendapat bahwa nasionalisme
adalah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu yang
diserahkan kepada bangsa dan negaranya.
Sedangkan menurut Loius Sneyder berpendapat
bahwa nasionalisme adalah hasil dari perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi,
sosial, dan intelektual.
2.
LIBERALISME
Beberapa tokoh yang bisa dianggap sebagai penganut dan yang mengembangkan paham liberalisme, yaitu:
Beberapa tokoh yang bisa dianggap sebagai penganut dan yang mengembangkan paham liberalisme, yaitu:
John Locke meyatakan
pendapatnya mengenai liberalisme, “negara terbentuk dari perjanjiann sosial
antara individu dengan yang hidup bebas dengan penguasa”
Montesquieu yang
menyatakan pendapatnya dalam bukunya spirit the law, terdapat pemisahan
kekuasaan dalam pemerintahan yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Tujuannya agar terdapat pengawasan antar lembaga agar tidak terjadi
penyalahgunaan wewenang.
Adam Smith, ekonom dari
Inggris, dalam bukunya Wealth of Nation (1776). Pendapatnya adalah bahwa
kesejahteraan umum dapat dicapai apabila diberikan kebebasan kepada setiap
individu untuk berusaha tanpa campur tangan dari pihak pemerintah.
3.
SOSIALISME
Pada awalnya sosialisme muncul sebagai reaksi atas liberalisme abad ke-19. Pendukung liberalisme adalah kelas menengah (middle class), yang oleh Karl Marx disebut kaum “borjuis”. Kelas menengah ini adalah memiliki industri, perdagangan dan memiliki pengaruh dalam masyarakat dan pemerintah. Ketertindasan kaum buruh oleh para pemilik modal (kapital) menimbulkan reaksi golongan kelas menengah, yang sampai sekarang dikenal dengan istilah gerakan sosialisme. Tujuannya menghilangkan pertentangan antar kelas, kelas buruh dan pemodal. Oleh Marx, sosialisme dikembangkan menjadi komunisme.
Pada awalnya sosialisme muncul sebagai reaksi atas liberalisme abad ke-19. Pendukung liberalisme adalah kelas menengah (middle class), yang oleh Karl Marx disebut kaum “borjuis”. Kelas menengah ini adalah memiliki industri, perdagangan dan memiliki pengaruh dalam masyarakat dan pemerintah. Ketertindasan kaum buruh oleh para pemilik modal (kapital) menimbulkan reaksi golongan kelas menengah, yang sampai sekarang dikenal dengan istilah gerakan sosialisme. Tujuannya menghilangkan pertentangan antar kelas, kelas buruh dan pemodal. Oleh Marx, sosialisme dikembangkan menjadi komunisme.
![]() |
| Robert Owen |
Selain Karl Marx, muncul nama Robert
Owen, seorang pengusaha Inggris yang menulis buku A New of Society an Essay on the Formation
of Human Character. Ia adalah orang yang pertama menggunakan istilah sosialisme
utopis. Kontribusi utama Owen ke pikiran kaum sosialis adalah pandangan
yang dimana perilaku sosial manusia tidaklah tetap atau absolut, dan manusia
itu mempunyai kemauan bebas untuk mengorganisir diri mereka ke dalam segala
bentuk masyarakat yg mereka inginkan.
Saint Simon, seorang
bangsawan dan tokoh sosialis yang menginginkan agar golongan pekerja dapat
mengikuti yang terjadi dalam perkembangan masyarakat, terutama perkembangan
ilmu pengetahuan dan industri. Bagi Saint Simon, golongan pekerja memiliki
peranan yang besar dalam memajukan pembangunan bangsa, khususnya kemajuan
bidang ekonomi. Adapun kaum bangsawan yang feodal hanya dianggap sebagai
parasit yang menghambat perkembangan masyarakat. Dengan demikian, yang berhak
untuk mengendalikan kepemimpinan negara bukanlah kelas atas (raja atau
bangsawan), tetapi golongan pekerja.
4.
KOMUNISME
Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen
Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen
![]() |
| Karl Marx |
yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels,
sebuah manifes politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848
teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada
perjuangan kelas
(sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi
salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.![]() |
| Joseph Stalin |
Paham ini kemudian dikembangkan oleh Lenin,
pemimpin Uni Soviet. Dengan demikian, terkadang komunisme disebut juga
ajaran Marxisme atau Leninisme. Marxisme adalah ajaran yang sangat
menjiwai gerakan-gerakan sosialis-komunis dengan filsafat yang materialistis
(historis materialisme) dan dialektis materialisme serta perjuangan kelas.
Death solves all problems - no man, no
problem -Joseph Stalin, tampil
sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet. Ketika Lenin meninggal
dunia tanggal 21 Januari 1924, Stalin tampil sebagai pemimpin Uni Soviet yang
baru. Ia memperlakukan saingannya secara kejam dan tidak manusiawi, terutama
pada masa pembersihan besar-besaran di Uni Soviet yang memakan banyak korban
jiwa.
5.
PAN ISLAMISME
Penyeru awal gerakan
pan-Islamisme adalah Sultan Abdul Hamid II yang menguasai Kesultanan
Usmani pada 1876 hingga 1909. Ia berusaha mempersatukan Islam di bawah panji
Usmani, namun setelah Usmani runtuh, pan-Islamisme pun redup.
Pan Islamisme didengungkan
kembali setelah kaum muslim terpecah-belah pada akhir abad ke-19 dan ketika itu
sebagian besar negeri muslim berada dalam cengkeraman
kolonialisme-imperialisme. Menurut salah seorang penganjurnya, Jamaluddin
al-Afgani (1838-1897), keadaan kaum muslim yang tercerai-berai itu merupakan
salah satu kelemahan kaum muslim. Berkat peran Jamaluddin al-Afgani
dalam kehidupan politik dan keagamaan di banyak wilayah Islam (Turki, Mesir,
India, Iran, dan Asia Tengah), pan-Islamisme benar-benar menemukan
personifikasi (model atau perumpamaan) dan juru bicara yang kuat. Afgani
menyadari bahwa umat muslim secara keseluruhan tengah terancam oleh
kolonialisme. Maka dari itu persatuan yang kuat harus digalakkan di
kalangan umat. Gagasan pan-Islamisme juga muncul di Mesir melalui organisasi
Ikhwanul Muslimin yang dibentuk oleh Hasan al Banna (1906-1949).
Gagasan ini lewat Ikhwanul Muslim meluas hingga ke Suriah, Yordania, Palestina,
dan negara-negara Timur-Tengah lainnya. Di Mesir sendiri, gagasan ini ditentang
keras ketika Presiden Gamal Abdel Nasser mengembangkan pan-Arabisme dan
kemudian sosialisme Arab.
Senin, 27 April 2015
Pergerakan Nasional di Indonesia
Pergerakan Nasional Indonesia mempunyai pengertian sebagai berikut.
a.Pergerakan
Maksud dari “pergerakan” di sini meliputi segala macam aksi dengan menggunakan “organisasi modern” untuk menentang penjajahan dan mencapai kemerdekaan. Dengan organisasi ini menunjuk bahwa aksi tersebut disusun secara teratur, dalam arti ada pemimpinnya, anggota, dasar dan tujuan yang ingin dicapai. Penggunaan organisasi modern ini menunjukkan adanya perbedaan dengan yang terjadi sebelumnya, yakni perjuangan dalam melawan penjajah sebelum tahun 1908.
b.Nasional
Istilah “nasional” menunjuk sifat dari pergerakan, yakni semua aksi dengan organisasi modern yang mencakup semua aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan kultural. Adapun tujuannya adalah melawan penjajahan untuk digantikan dengan kekuasaan yang dipegang oleh bangsa Indonesia sendiri. Istilah Nasional dalam hal ini oleh Sartono Kartodirdjo (1990) diartikan sebagai kata sifat dari suatu “nation” yang menunjukkan kumpulan individu-individu yang dipersatukan oleh ikatan politik, bahasa, kultural dan sebagainya.
c.Indonesia
Nama “Indonesia” yang digunakan berfungsi sebagai simbolis di dalam sejarah pergerakan nasional dan dengan makin majunya pergerakan nasional, maka sebutan “Indonesia” merupakan keharusan. Berdasarkan keterangan di atas dapat mengerti bahwa Sejarah Pergerakan Nasional adalah bagian dari Sejarah Indonesia yang meliputi kurun waktu sekitar 40 tahun, yakni dimulai sejak lahirnya Budi Utomo sebagai organisasi nasional yang pertama sampai dengan terbentuknya bangsa Indonesia 1945 yang ditandai oleh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa Sejarah Pergerakan Nasional sebagai fenomena historis adalah hasil dari perkembangan faktor ekonomi, sosial, politik, kultural dan religius dan di antara faktor-faktor itu saling terjadi interelasi (saling terkait).
Sejarah Pergerakan Nasional yang dimulai dari berdirinya Budi Utomo (BU) sampai dengan mencapai kemerdekaan 1945, dapat dibagi menjadi beberapa masa, yakni :
1)Masa Awal Perkembangan, yang ditandai dengan berdirinya organisasi seperti : Budi Utomo (BU), Sarekat Islam ( SI), dan Indische Partij ( IP).
2)Masa Radikal, ditandai dengan berdirinya Partai Komunis Indonesia ( PKI), Partai Nasional Indonesia ( PNI) dan Perhimpunan Indonesia ( IP).
3)Masa Bertahan, ditandai dengan berdirinya Fraksi Nasional, Petisi Sutardjo, dan Gabungan Politik Indonesia ( GAPI).
Latar Belakang
Lahirnya Pergerakan Nasional Indonesia tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa di Benua Asia saat itu. Adapun faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
a.Faktor Intern
1)Adanya penjajahan yang mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan, sehingga menimbulkan tekad untuk menentang penjajahan tersebut.
2)Adanya kenangan akan kejayaan masa lampau, seperti zaman Sriwijaya dan Majapahit.
3)Munculnya kaum intelektual yang kemudian menjadi pemimpin pergerakan nasional.
b.Faktor Ekstern
1)Adanya All Indian National Congress 1885 dan Gandhiisme di India.
2)Adanya Gerakan Turki Muda 1908 di Turki.
3)Adanya kemenangan Jepang atas Rusia (1905), yang menyadarkan dan membangkitkan bangsa-bangsa Asia untuk melawan bangsa – bangsa Barat.
4)Munculnya paham-paham baru di Eropa dan Amerika yang masuk ke Indonesia, seperti: liberalisme, demokrasi, nasionalisme; yang kesemuanya mempercepat lahirnya Nasionalisme Indonesia.
source: http://hikmat.web.id/sejarah-kelas-xi/latar-belakang-lahirnya-pergerakan-nasional-indonesia/
Belanda telah menjajah tanah nusantara sejak tahun 1596, terus mengeruk sumber daya alam maupun manusia di Indonesia, menindas rakyat pribumi, mencuri kesejahteraan rakyat Indonesia. Pada akhir abad ke-19, Van Deventer mengkritik keadaan itu melalui salah satu karangannya yang berjudul Utang Budi. Van Deventer antara lain menyatakan bahwa kemakmuran Belanda diperoleh berkat kerja dan jasa orang Indonesia. Oleh sebab itu, bangsa Belanda sebagai bangsa yang maju dan bermoral harus membayar utang budi kepada bangsa Indonesia. Caranya adalah dengan menjalankan Politik Balas Budi atau dikenal dengan sebutan Politik Etis. Politik Etis yang diusulkan Van Deventer berisi tentang berbagai perbaikan, 3 hal yang amat mencolok yaitu dalam bidang irigasi (pengairan), emigrasi (perpindahan), dan edukasi (pendidikan).
a.Pergerakan
Maksud dari “pergerakan” di sini meliputi segala macam aksi dengan menggunakan “organisasi modern” untuk menentang penjajahan dan mencapai kemerdekaan. Dengan organisasi ini menunjuk bahwa aksi tersebut disusun secara teratur, dalam arti ada pemimpinnya, anggota, dasar dan tujuan yang ingin dicapai. Penggunaan organisasi modern ini menunjukkan adanya perbedaan dengan yang terjadi sebelumnya, yakni perjuangan dalam melawan penjajah sebelum tahun 1908.
b.Nasional
Istilah “nasional” menunjuk sifat dari pergerakan, yakni semua aksi dengan organisasi modern yang mencakup semua aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan kultural. Adapun tujuannya adalah melawan penjajahan untuk digantikan dengan kekuasaan yang dipegang oleh bangsa Indonesia sendiri. Istilah Nasional dalam hal ini oleh Sartono Kartodirdjo (1990) diartikan sebagai kata sifat dari suatu “nation” yang menunjukkan kumpulan individu-individu yang dipersatukan oleh ikatan politik, bahasa, kultural dan sebagainya.
c.Indonesia
Nama “Indonesia” yang digunakan berfungsi sebagai simbolis di dalam sejarah pergerakan nasional dan dengan makin majunya pergerakan nasional, maka sebutan “Indonesia” merupakan keharusan. Berdasarkan keterangan di atas dapat mengerti bahwa Sejarah Pergerakan Nasional adalah bagian dari Sejarah Indonesia yang meliputi kurun waktu sekitar 40 tahun, yakni dimulai sejak lahirnya Budi Utomo sebagai organisasi nasional yang pertama sampai dengan terbentuknya bangsa Indonesia 1945 yang ditandai oleh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa Sejarah Pergerakan Nasional sebagai fenomena historis adalah hasil dari perkembangan faktor ekonomi, sosial, politik, kultural dan religius dan di antara faktor-faktor itu saling terjadi interelasi (saling terkait).
Sejarah Pergerakan Nasional yang dimulai dari berdirinya Budi Utomo (BU) sampai dengan mencapai kemerdekaan 1945, dapat dibagi menjadi beberapa masa, yakni :
1)Masa Awal Perkembangan, yang ditandai dengan berdirinya organisasi seperti : Budi Utomo (BU), Sarekat Islam ( SI), dan Indische Partij ( IP).
2)Masa Radikal, ditandai dengan berdirinya Partai Komunis Indonesia ( PKI), Partai Nasional Indonesia ( PNI) dan Perhimpunan Indonesia ( IP).
3)Masa Bertahan, ditandai dengan berdirinya Fraksi Nasional, Petisi Sutardjo, dan Gabungan Politik Indonesia ( GAPI).
Latar Belakang
Lahirnya Pergerakan Nasional Indonesia tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa di Benua Asia saat itu. Adapun faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
a.Faktor Intern
1)Adanya penjajahan yang mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan, sehingga menimbulkan tekad untuk menentang penjajahan tersebut.
2)Adanya kenangan akan kejayaan masa lampau, seperti zaman Sriwijaya dan Majapahit.
3)Munculnya kaum intelektual yang kemudian menjadi pemimpin pergerakan nasional.
b.Faktor Ekstern
1)Adanya All Indian National Congress 1885 dan Gandhiisme di India.
2)Adanya Gerakan Turki Muda 1908 di Turki.
3)Adanya kemenangan Jepang atas Rusia (1905), yang menyadarkan dan membangkitkan bangsa-bangsa Asia untuk melawan bangsa – bangsa Barat.
4)Munculnya paham-paham baru di Eropa dan Amerika yang masuk ke Indonesia, seperti: liberalisme, demokrasi, nasionalisme; yang kesemuanya mempercepat lahirnya Nasionalisme Indonesia.
source: http://hikmat.web.id/sejarah-kelas-xi/latar-belakang-lahirnya-pergerakan-nasional-indonesia/
Belanda telah menjajah tanah nusantara sejak tahun 1596, terus mengeruk sumber daya alam maupun manusia di Indonesia, menindas rakyat pribumi, mencuri kesejahteraan rakyat Indonesia. Pada akhir abad ke-19, Van Deventer mengkritik keadaan itu melalui salah satu karangannya yang berjudul Utang Budi. Van Deventer antara lain menyatakan bahwa kemakmuran Belanda diperoleh berkat kerja dan jasa orang Indonesia. Oleh sebab itu, bangsa Belanda sebagai bangsa yang maju dan bermoral harus membayar utang budi kepada bangsa Indonesia. Caranya adalah dengan menjalankan Politik Balas Budi atau dikenal dengan sebutan Politik Etis. Politik Etis yang diusulkan Van Deventer berisi tentang berbagai perbaikan, 3 hal yang amat mencolok yaitu dalam bidang irigasi (pengairan), emigrasi (perpindahan), dan edukasi (pendidikan).
Akan tetapi pelaksanaannya tidak terlepas dari kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Politik Etis sebenarnya merupakan bentuk penjajahan kebudayaan yang halus sekali. Program edukasi itu sendiri sebenarnya merupakan pelaksanaan dari Politik Asosiasi yang berarti penggantian kebudayaan asli tanah jajahan dengan kebudayaan penjajah. Walaupun menyimpang dari tujuan semula, beberapa pelaksanaan dari Politik Etis telah membawa pengaruh yang baik. Misalnya, dengan didirikannya sekolah-sekolah untuk golongan pribumi. Tujuannya adalah untuk memperoleh tenaga baru pegawai rendah yang bersedia digaji lebih murah dari pada tenaga bangsa-bangsa Belanda. Banyaknya penduduk pribumi yang bersekolah telah menghasilkan kaum cerdik pandai dikalangan penduduk pribumi.
Kaum cerdik pandai inilah yang mempelopori kesadaran kebangsaan, yaitu suatu kesadaran tentang perlunya persatuan dan kesatuan bangsa. Kaum cerdik inilah yang kemudian menjadi "anak macan memakan induknya" bagi Belanda, karena kaum tersebut mengembalikan semangat rakyat Indonesia pentingnya arti kemerdekaan. Peristiwa timbulnya kesadaran berbangsa disebut Kebangkitan Nasional Indonesia. Kaum cerdik pandai ini pula yang mempelopori dan memimpin pergerakan nasional pada awal abad ke-20 dengan mendirikan bermacam-macam organisasi.Lahirlah tokoh-tokoh yang luar biasa dalam pergerakan nasional......................
1. Dr. Soetomo (lahir di Ngepeh, Nganjuk, 30 Juli 1888, wafat Surabaya, 30 Mei 1938) adalah tokoh pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan yang pertama di Indonesia. Pada tahun 1903, Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA, School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Jakarta. Bersama kawan-kawan dari STOVIA inilah Soetomo mendirikan perkumpulan yang bernama Budi Utomo, pada tahun 1908. Setelah lulus pada tahun 1911, ia bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. Pada tahun 1917, Soetomo menikah dengan seorang perawat Belanda. Pada tahun 1919 sampai 1923, Soetomo melanjutkan studi kedokteran di Belanda. Pada tahun 1924, Soetomo mendirikan Indonesian Study Club di Surabaya.
Tanggal 30 Mei 1938, bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sutomo wafat setelah berbuat banyak bagi bangsanya. Untuk mengenang jasanya, Sutomo dimakamkan di Gedung Nasional Bubutan, Surabaya. Dan pada tahun 1961, Sutomo dikukuhkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.
2. Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah tokoh yang merupakan pelopor pendidikan bagi bangsa Indonesia pada saat zaman penjajahan. Tokoh yang terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan kepada kaum pribumi untuk mengecap indahnya bangku pendidikan. Selain itu beliau juga turut serta dalam pendirian Budi Utomo. Hari Kelahirannya, yakni pada tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan. Selain menjadi tokoh pergerakan nasional, beliau juga menjadi tokoh pendidikan Indonesia. Tanpa beliau, bangsa kita tidak akan pernah menikmati indahnya masa-masa sekolah dan mengenyam pendidikan.
3. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Tokoh ini masih juga berdarah Indonesia. Namun tidak sepenuhnya. Tetapi keberadaanya bagi Indonesia sangat bermakna. Beliau mendirikan Nationale Indische Partij pada tahun 1912 yang didirikan bersama dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, Nationale Indische Partij merupakan sebuah partai politik. Menilai Budi Utomo terbatas pada bidang kebudayaan saja, maka Douwes Dekker mendirikan sebuah partai politik. Douwes Dekker masih terhitung saudara dengan pengarang buku Max Haveelar, Eduard Douwes Dekker. Douwes Dekker sendiri yang tidak sepenuhnya berdarah Indonesia, namun ia dengan segenap jiwa dan raga berjuang untuk pergerakan nasional Indonesia. National Indische Partij pun aktif dalam berbagai organisasi internasional, seperti Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan, serta Liga Demokrasi Internasional untuk menarik perhatian dunia internasional. Douwes Dekker mencurahkan pikiran dan tenaganya demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
4. Dr. Cipto Mangunkusumo. Beliau merupakan dokter profesional yang cenderung lebih dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional. Bersama dengan Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker, beliau mendirikan partai politik Nationale Indische Partij. Pada awalnya Dr. Cipto Mangunkusumo bergerak sebagai dokter pemerintahan dibawah Belanda. Namun karena beberapa tulisannya dalam De Express yang cenderung mengkritik kekejaman pemerintahan Belanda, akhirnya beliau diberhentikan sebagai dokter pemerintahan. Hal tersebut membuat beliau semakin intens melakukan perjuangan.
5. H. Agus Salim. Agus salim adalah seorang diplomat ulung, orator, penulis, filsuf, ulama dan ahli bahasa. Ia menguasai sembilan bahasa asing. ( saya merokemen anda untuk membaca artikel yang sangat bagus ini untuk pengetahuan tentang H. Agus Salim lebih jauh : http://www.anneahira.com/gambar-tokoh-pergerakan-nasional.htm )
6. Raden Ajeng Kartini. Beliau lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil tidak berani melawan orang tuanya, maka beliau mengisi waktunya dengan membaca buku yang kemudian menjadi hobinya. Kemudian timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya di dapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda, ia juga mengkritisi kolonial Belanda. Setelah menikah, ia mendirikan sekolah wanita.
7. Prof. Mohamad Yamin, SH. Moh. Yamin muda memiliki rasa nasionalisme yang sangat besar. Hal itu dibuktikannya dengan bergabung pada organisasi Jong Sumatranen Bond (JBS) serta Indonesia Muda. Moh. Yamin sering mengkritik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Karena keberanian dan kritikannya yang sangat tajam, maka Belanda mencabut beasiswa yang diberikan kepadanya. Namun, Moh. Yamin tidak gentar menghadapinya. Pidato dan kritikan tajam serta ajakannya untuk bersatu melawan penjajah, dikemukakannya pada Kongres Pemuda II di Jakarta. Dalam Kongres Pemuda II di Jakarta, Mohammad Yamin menjabat sebagai sekretaris panitia kongres.
Menjelang kemerdekaan, Mr. Moh. Yamin aktif dalam BPUPKI. Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Moh. Yamin menyumbangkan pemikirannya tentang dasar negara untuk Indonesia merdeka dalam sidang BPUPKI. Ia juga terlibat dalam Panitia Sembilan di BPUPKI. Mr. Moh. Yamin bahkan yang memberi nama hasil rumusan dasar negara yang dihasilkan Panitia Sembilan dengan sebutan Jakarta Charteratau Piagam Jakarta. Kemudian beliau aktif dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
8. H. Oemar Sahid Cokroaminoto. Beliau adalah pendiri Sarekat Islam yang terkenal pandai berpidato dan memberikan pengaruh terhadap generasi-generasi muda.Sempat bekerja sebagai juru tulis di Ngawi sebelum pindah ke Surabaya untuk bekerja di sebuah perusahaan dagang. Aktivitasnya dalam dunia politik dimulai ketika bergabung dalam organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1912. Atas usulnya, SDI berubah menjadi partai politik yang bernama Sarekat Islam (SI). Di SI, Cokroaminoto menjadi komisaris dan kemudian ketua partai. Sebagai wakil SI dalam Volksraad, bersama Abdul Muis, tanggal 25 November 1918 mengajukan Mosi Cokroaminoto yang menuntut Belanda untuk membentuk parlemen dari dan oleh rakyat.
source: http://sejarahramona.blogspot.com/
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ra-kartini.html
https://anakaseliindonesia.wordpress.com/2012/10/25/pahlawan-pahlawan-pergerakan-nasional-indonesia/
https://ayaelectro.wordpress.com/2008/05/27/10-tokoh-kebangkitan-nasional/
http://www.tuanguru.com/2012/11/biografi-singkat-H.O.S-Cokroaminoto.html
Jika aku menjadi...............
Jika aku berada pada masa pergerakan nasional, aku akan bergabung di rumah HOS Cokroaminoto, berkumpul dengan orang-orang hebat, pemukiman multi-etnik yang kemudian menjadi tempat para kaum terpelajar saling transfer pemikiran-pemikiran dan ide-ide untuk memajukan bangsa Indonesia. Pasti senang rasanya bergabung dengan Soekarno, Agus Salim, Cipto Mangunkusumo. Jika disuruh memilih akan berkecimpung dalam organisasi apa, ya mungkin jawabanku adalah Sarekat Islam yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto. Beliau tokoh yang hebat, menginspirasi. Beliau mencetuskan Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam. Karena, benar juga sih, menurut beliau 'kan 'mengapa hanya di bidang ekonomi?' yang pada kenyataannya, pergerakan 'kan bisa dari segala arah, tidak hanya ekonomi saja. SI kemudian mampu bersaing dengan organisasi Budi Utomo yang didirikan lebih dulu.
Sekian, Wassalamualaikum :)
source: http://sejarahramona.blogspot.com/
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ra-kartini.html
https://anakaseliindonesia.wordpress.com/2012/10/25/pahlawan-pahlawan-pergerakan-nasional-indonesia/
https://ayaelectro.wordpress.com/2008/05/27/10-tokoh-kebangkitan-nasional/
http://www.tuanguru.com/2012/11/biografi-singkat-H.O.S-Cokroaminoto.html
Jika aku menjadi...............
Jika aku berada pada masa pergerakan nasional, aku akan bergabung di rumah HOS Cokroaminoto, berkumpul dengan orang-orang hebat, pemukiman multi-etnik yang kemudian menjadi tempat para kaum terpelajar saling transfer pemikiran-pemikiran dan ide-ide untuk memajukan bangsa Indonesia. Pasti senang rasanya bergabung dengan Soekarno, Agus Salim, Cipto Mangunkusumo. Jika disuruh memilih akan berkecimpung dalam organisasi apa, ya mungkin jawabanku adalah Sarekat Islam yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto. Beliau tokoh yang hebat, menginspirasi. Beliau mencetuskan Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam. Karena, benar juga sih, menurut beliau 'kan 'mengapa hanya di bidang ekonomi?' yang pada kenyataannya, pergerakan 'kan bisa dari segala arah, tidak hanya ekonomi saja. SI kemudian mampu bersaing dengan organisasi Budi Utomo yang didirikan lebih dulu.
Sekian, Wassalamualaikum :)












